Doa Bila Terjaga/Terbangun Di Malam Hari
Yang dimaksud dengan โterjaga di malam hariโ dalam doa ini adalah keadaan ketika seseorang bangun dari tidurnya pada malam hariโbaik tengah malam maupun menjelang Subuhโlalu ia memanfaatkan momen bangun itu untuk berzikir, berdoa, atau melaksanakan shalat malam.
Para ulama menjelaskan bahwa makna โterjagaโ ini bukan sekadar begadang tanpa tidur sejak awal malam, namun seseorang terlebih dahulu tidur, kemudian bangun di waktu malam dan mengingat Allah. Inilah waktu istimewa yang diberkahi, di mana doa dikabulkan dan shalat diterima apabila ia berwudhu dan mendirikan shalat setelahnya.
ูุงู ุฅูููููฐูู ุฅููุงูู ุงููููููุ ููุญูุฏููู ูุงู ุดูุฑููููู ููููุ ูููู ุงููู ููููู ูููููู ุงููุญูู ูุฏูุ ูููููู ุนูููู ููููู ุดูููุกู ููุฏูููุฑูุ ุงูููุญูู ูุฏู ูููููููุ ููุณูุจูุญูุงูู ุงููููููุ ูููุงู ุฅูููููฐูู ุฅููุงูู ุงููููููุ ููุงูููููู ุฃูููุจูุฑูุ ูููุงู ุญููููู ูููุงู ูููููุฉู ุฅููุงูู ุจูุงูููููู
“Laa ilaaha illallaah, wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai-in qodiir, alhamdulillaah, wa subhaanallaah, wa laa ilaaha illallaah, wallaahu akbar, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah.“
Artinya:
Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan dan pujian. Dia-lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Segala Puji bagi Allah, Maha Suci Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
Keterangan dan dalil:
Dari ‘Ubadah bin Shamit Radhiallahu’anhu, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam beliau bersabda: “Barangsiapa yang terjaga di malam hari, kemudian dia membaca: (doa di atas) kemudian dia mengucapkan:
ุงูููููููู ูู ุงุบูููุฑู ููู
Allaahummaghfir lii.
“Ya Allah, ampunilah dosaku” Atau dia berdoa (dengan doa yang lain), maka akan dikabulkan doanya, jika dia berwudhu dan melaksanakan shalat maka akan diterima shalatnya.
” HR. al-Bukhari 1103, Abu Dawud 5060, at-Tirmidzi 3414 dan Ibnu Majah 3878, shahih.
Imam Ibnu Baththal Rahimahullah berkata, “Bagi orang sampai kepadanya hadits ini, sepantasnya dia berusaha mengamalkannya dan mengikhlaskan niatnya (ketika mengamalkannya) untuk Allah Ta’ala.”
(Dinukil oleh Imam Ibnu Hajar Rahimahullah dalam kitab Fathul Baari 3/41).
Wallahu’alam…




